INFO
Selamat Datang di AIR Blog ● Baca Al-Quran 30 Juz dan Ribuan Hadis Shahih di Portal Islami ● Semoga anda dan keluarga diberikan keselamatan, kesahatan dan rezeki yang melimpah oleh Allah SWT.
AIR
AIR
BAWEAN
Waktu & Perangkat Lokal
Memuat tanggal...
Mendeteksi lokasi...
--:--:--

Menembus Pekatnya Kabut Asap di Perairan Singapura

17/10/2026 • AIR • Jurnal Umum

Sudah beberapa bulan belakangan ini, jalur pelayaran tersibuk di dunia Selat Singapura seolah kehilangan wajah aslinya. Laut yang biasanya membentang luas kini diselimuti kabut asap tebal akibat pembakaran hutan secara ilegal di Indonesia. Jarak pandang (visibility) yang terkadang merosot hingga kurang dari 2 mil laut menjadi tantangan berat bagi kami yang bertugas di atas kapal.

Kondisi seperti ini jelas sangat mengganggu operasional pelayaran dan meningkatkan risiko fatal. Setiap jamnya, Vessel Traffic Service (VTS) atau kontrol lalu lintas pelayaran di Singapura tak henti-hentinya memberikan peringatan maritim melalui radio VHF:

“Navigate with Caution.”

Panggilan peringatan itu terus bergema sepanjang hari, mengingatkan setiap perwira dan kru kapal untuk tetap berada dalam tingkat kesiapsiagaan tertinggi. Semua alat navigasi mulai dari radar, AIS, hingga lookout visual secara manual harus dimaksimalkan demi menghindari bahaya tubrukan di tengah lalu lintas laut yang padat dan berselimut kabut.

Dampak Langsung Bagi Pekerja Dek dan Luar Ruangan

Bukan hanya masalah navigasi kapal, dampak kabut asap ini terasa sangat nyata bagi kami yang harus bekerja di luar ruangan (outdoor). Berdasarkan indeks pencemaran udara, kualitas udara yang kami hirup saat ini sudah menyentuh level yang membahayakan kesehatan.

Saya tidak ingin memperpanjang pembahasan mengenai konsekuensi hukum bagi para pelaku pembakaran hutan. Biarlah hal tersebut menjadi urusan dan kewenangan aparat penegak hukum yang bertugas.

Fokus saya di sini adalah rekan-rekan sesama pelaut dan pekerja laut yang berada di garis depan.

Pesan untuk Rekan-Rekan Pelaut

Untuk sahabat dan rekan-rekan pelaut di mana pun Anda berada, khususnya yang sedang melintasi area terpapar kabut asap:

  1. Utamakan Keselamatan Navigasi Jangan lengah sedikit pun. Maksimalkan fungsi pengamatan (proper lookout), pertahankan kecepatan aman (safe speed), dan pastikan seluruh peranti navigasi berfungsi optimal.
  2. Jaga Kesehatan dan Gunakan Masker Ini yang sering kali kita abaikan. Udara beracun dan bercampur partikel asap yang kita hirup mungkin tidak langsung membuat kita tumbang hari ini atau esok hari. Namun, efek buruknya bersifat akumulatif. Nanti, ketika daya tahan tubuh kita mulai menurun, barulah dampak dari seringnya menghirup udara tak sehat itu terasa pada organ pernapasan kita.

Selalu pakai masker yang memadai (seperti N95 atau setidaknya masker medis yang rapat) saat bertugas di geladak atau area terbuka. Jangan tunggu sampai batuk atau sesak napas baru mulai bersiap.

Tetap waspada dalam bertugas, jaga kondisi fisik, dan saling mengingatkan satu sama lain di atas kapal.

Salam sehat dan safe sailing untuk kita semua!

PERHATIAN:

Jurnalisme Warga (Penafian)

Semua isi konten dalam situs ini adalah murni opini pribadi. Hasil dan pengalaman tiap pembaca bisa berbeda. Dengan mengakses situs ini, Anda setuju untuk membebaskan penulis dari segala kerugian, tuntutan, maupun tanggung jawab hukum atas penggunaan informasi di dalamnya.

🔗 Share Link Artikel

7 Komentar

  • Azwin

    18/10/2026 pada 16:48

    Bang bisa kirim soal modul satu gak,atau kalo ada yg pdf bang.terimakasih

    • AIR

      Admin
      18/10/2026 pada 16:50

      Judul artikelnya apa yang ditanya apa? 😃

      • Azwin

        18/10/2026 pada 16:53

        Tolong abangkuh

        • AIR

          Admin
          18/10/2026 pada 17:02

          Aduh sayangnya aku gak punya filenya

  • Basyori

    18/10/2026 pada 16:58

    Harusnya hukum mati saja pembakar hutan ini biar kapok

    • Azwin

      18/10/2026 pada 17:05

      Pak basori punya failnya pak

      • Basyori

        18/10/2026 pada 17:08

        Berkas apa kuwi? Aku ora ngerti, modul modal, modal dengkul?

Tinggalkan Jejak Komentar

Alamat email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan. Ruas wajib ditandai *