INFO
Goresan Aksara Terakhir Sang Maestro: Selamat Jalan, Bintang Sastra dan Teater Bawean (1953 - 2026)  •  ​Menemukan Cinta di Tambak Timur: Catatan Seorang "Migran Rural-Rural" tentang Perubahan dan Kekompakan  •  Aldebaran Meluncur: Semoga Sekadar Menyalurkan Hobi, Bukan Apa Yo?  •  Tambak Timur, Sebuah Kisah Cinta, Ketulusan dan Berbagi  •  Liburan di Pantai Mayangkara

Goresan Aksara Terakhir Sang Maestro: Selamat Jalan, Bintang Sastra dan Teater Bawean (1953 – 2026)

Diposting pada 14/03/2026 oleh admin dalam kategori Jurnal Keluarga

​Tambak Bawean 14-03-2026 (24 Ramadhan 1447 H) – – Hari ini, dunia hiburan dan sastra Bawean diselimuti awan duka. Kita kehilangan sebuah pelita, sosok yang sangat kharismatik dan tak tergantikan. Beliau adalah Muhammad Natsir Abrari, atau yang dalam panggung sastra dan teater lebih akrab disapa sebagai Sir Baidy Iskak. Sebagai seorang pengarang daerah yang profesional dan peraih berbagai penghargaan, dedikasinya pada dunia sastra telah menyala sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

​Jejak Langkah Sang Juara sejak Belia

​Kecintaan Sir Baidy pada dunia sastra, khususnya drama dan puisi, sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Bakatnya begitu cemerlang. Sejak kelas 1 SMP hingga kelas 2 SMA, beliau selalu menyapu bersih gelar juara dalam berbagai pertandingan baca puisi se-Kabupaten Gresik. Dominasinya begitu kuat, hingga menjelang kelas 3 SMA, panitia tidak lagi memperkenankannya menjadi peserta agar memberi kesempatan bagi yang lain.

​Menempa Diri di Ibu Kota

​Pada tahun 1972, panggilan seni membawanya merantau ke Jakarta. Selama satu dekade di ibu kota, Sir Baidy benar-benar melebur dalam kawah candradimuka dunia teater. Perjalanannya tercatat gemilang:

  • ​1976: Memimpin “Teater Bara” di Cilincing, Jakarta Utara.
  • ​Kolaborasi: Bergabung dengan “Teater Gelut” dan memimpin “Teater Sunda Kelapa”.
  • ​Puncak Prestasi Jakarta: Bersama “Art Study Club”, beliau berhasil menjuarai Festival Teater Remaja di Taman Ismail Marzuki (TIM).

​Di Jakarta pula, Sir Baidy mengasah ketajamannya dengan belajar langsung dari tokoh-tokoh besar teater Indonesia, seperti W.S. Rendra, Putu Wijaya, dan Adi Kurdi.

​Kembali ke Akar dan Mengguncang Internasional

​Setelah sepuluh tahun menyerap ilmu di Jakarta, Sir Baidy pulang untuk membangun kampung halamannya, Pulau Bawean. Setibanya di sana, ia mendirikan “Teater Kesit” yang kemudian berhasil menjuarai festival teater di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya selama dua tahun berturut-turut.

​Puncak pengakuan internasional terjadi pada tahun 1992. Persatuan Bawean – Singapura mempercayakannya untuk memproduksi sebuah drama yang dipentaskan melintasi batas negara: Singapura, Malaysia, Tanjung Pinang, dan Batam. Pementasan drama berjudul “Lanapak Ka Jhudhuna” di gedung Kallang Theatre, Singapura, mencetak sejarah. Menarik sekitar 2.400 penonton, angka ini jauh melampaui kapasitas normal pementasan serupa yang biasanya hanya dihadiri 800 orang.

​Kesuksesan ini mengundang decak kagum, sebagaimana diungkapkan oleh Sekretaris Persatuan Bawean – Singapura kala itu, Saudari Noorliyati:

​“Tidak disangka di pulau kecil macam Bawean ini, ada seorang yang mampu membawa dan mewakili pemikirannya ke dunia internasional.”

​Kiprah emasnya di kancah internasional kembali terulang pada tahun 2012. Bersama almarhum Cuk Sugrito, Sir Baidy kembali dipercaya oleh Persatuan Bawean Singapura (PBS), yang kala itu dipimpin oleh sang Presiden PBS, Bapak Haji Faizal Wahyuni, untuk menyajikan pementasan drama dan panggung hiburan rakyat masyarakat Bawean dalam “Acara Karameiyan”.

​Acara yang digelar di Politeknik Singapura, kawasan Dover, ini menjadi momen yang sangat membanggakan karena turut dihadiri oleh tamu-tamu kehormatan antarnegara. Dari pihak Singapura, hadir Bapak Hawazi Daipi, yang kala itu menjabat sebagai Setiausaha Parlimen Kanan (Senior Parliamentary Secretary) Kementerian Tenaga Kerja Singapura (Ministry of Manpower). Sementara dari Indonesia, hadir langsung para pemimpin daerah masa itu, yakni Bupati Gresik Dr. H. Sambari Halim Radianto, S.T., M.Si. beserta Wakil Bupati Drs. H. Moh. Qasim, M.Si., dan juga Ketua DPRD Kabupaten Gresik Bapak H. Zulfan Hasyim, S.H., M.H.

​Antusiasme warga Bawean di Singapura saat itu sungguh luar biasa. Tempat pentas yang disediakan panitia terasa begitu kecil sehingga ruangan menjadi penuh oleh para penonton yang ingin menyaksikan karya beliau.

​Pengabdian Tanpa Batas: Dari Sastra hingga Olahraga

​Sir Baidy adalah manusia dengan profesi yang kaya warna. Ia bukan sekadar sastrawan, melainkan juga budayawan, akademisi, kritikus, dan aktivis. Selain menyutradarai drama, tulisan cerpen dan puisinya terus mengalir. Salah satu karya puisinya telah dibukukan dalam format budget kecil berjudul “Seratus Delapan Puluh Derajat”.

​Pengabdiannya di bidang pendidikan juga tak kalah besar. Beliau pernah mengajar teater di Jakarta serta menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia di berbagai SMP dan SMU (Negeri maupun Swasta) di Bawean. Menariknya, di luar dunia sastra, beliau juga dikenal serba bisa, sering diundang menjadi reporter dan komentator untuk berbagai ajang olahraga setempat.

​Sosok Ayah Teladan dan Permohonan Maaf Keluarga

​Di balik layar panggung dan gemuruh tepuk tangan, Sir Baidy adalah seorang kepala keluarga yang penuh kasih sayang. Dedikasinya pada keluarga berbuah manis, terbukti dengan keberhasilannya mendidik dan menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Di mata masyarakat, beliau adalah sosok berhati mulia yang tak pernah ragu mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan—kebaikan yang terlalu panjang jika harus dituliskan satu per satu di sini.

​Namun, sebagai manusia biasa, beliau tentu tak luput dari khilaf dan salah. Mengingat saat ini kita berada di bulan suci Ramadhan—bulan terbaik untuk saling memaafkan—mewakili pihak keluarga yang ditinggalkan, kami memohonkan pintu maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan, tutur kata, maupun perbuatan beliau yang kurang berkenan semasa hidupnya.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

​Selamat jalan, Sir Baidy Iskak. Karya dan dedikasimu akan selalu menjadi pelita yang tak pernah padam. Engkau akan selalu dikenang sebagai bapak terbaik bagi keluarga, suami penyayang, kakek yang penuh kasih sayang, serta mertua yang begitu baik dan bijaksana. Beristirahatlah dalam damai, Sang Maestro.

Jurnalisme Warga (Penafian)

Semua isi konten dalam situs ini adalah murni opini pribadi. Hasil dan pengalaman tiap pembaca bisa berbeda. Dengan mengakses situs ini, Anda setuju untuk membebaskan penulis dari segala kerugian, tuntutan, maupun tanggung jawab hukum atas penggunaan informasi di dalamnya.

Tag: ,